Asam Manisnya Bergulat Dengan Skripsi

Tujuan dasar kita kuliah adalah mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dengan menggunakan gelar sarjana. Dari awal pertama kali masuk kita di hadapkan dengan banyak doktrin - doktrin ilmu yang di persilahkan untuk di serap sebagai bekal untuk kita terjun ke lapangan kerja. Selain ilmunya yang di sampaikan, nggak jarang juga kita dapat bonus di pertengahan semester atau di akhir semester semacam makalah dan sejenisnya.

asam manisnya bergulat dengan skripsi
sumber gambar : hsiuncovered.com

"Oalah...'' nggak jarang pula tugas dari dosen satu baru saja di dapat dosen satunya udah main ndusel aja, ngeluh adalah satu kata deskripsi yang menjelaskan situasi nggak nyaman kita sebagai respon cepat tugas makalah. Makalah itu sulit kalo di buat dengan label "Original, no copas", tapi apakah ada yang lebih menyeramkan selain tugas dosen sejenis makalah saja? Ya, apalagi kalo bukan SKRIPSI.

Skripsi yang merupakan tugas khas anak kuliahan semester akhir ini begitu krusial, bisa saja kita yang rajin - rajinnya masuk kuliah dan ngerjain tugas dengan nilai tiap - tiap semesternya menunjukkan indeks prestasi yang tinggi dan predikat sangat memuaskan bisa saja terjegal dengan skripsi. Banyak juga mahasiswa yang musti menunda wisuda karena tanggungan yang satu ini belum selesai juga.

Bahkan ada juga yang menyerah lalu drop out begitu saja, walahh... sebegitu menyeramkankah? Kalo kamu juga sedang mengerjakan skripsi, boleh setuju dan boleh nggak setuju, kok. Sementara buat yang belum pernah mencicipi tugas akhir mahasiswa ini, bukannya menakut - nakuti tapi artikel ini sedikit memberitahumu, bahwa keberhasilan usaha yang kamu upayakan akan memberikan kepuasan original jika kamu mulai dari nol.

1. Skripsi adalah arena pertarungan dimana kapasitas intelektual dan kecerdasan emosional sedang di uji, sebenarnya skripsi itu tak semenyeram itu tapi fakta yang harus di terima keberadaannya oleh mahasiswa. Sayangnya, kemampuan dari mahasiswa untuk menerima realita tidaklah serupa. Sebagian dari mahasiswa memiliki kesibukan sendiri bahkan ada yang menolak kenyataan dengan bermalas - malasan atau memilih tekun dengan hobinya.

Karena itulah skripsi tak hanya menyita kapasitas intelektual yang tinggi, kecerdasan emosional yang mumpuni juga turut di butuhkan. Seperti naik roller coaster emosi, cepat naik turunnya berapi - api mampu membludak - bludak di butuhkan jiwa perjuangan yang tinggi dan kepercayaan diri untuk menghadapi.

2. Mengerjakan skripsi di butuhkan fokus yang tak terbagi. Beruntungnya skripsi adalah tugas mahasiswa tingkat akhir, di mana jam - jam pertemuan dengan dosen pengajar sudah mulai berkurang, kesempatan seperti ini bisa di gunakan sebaik mungkin untuk segera menyelesaikan skripsi. Kalo fokus mahasiswa hanya tertuju pada skripsi bukan tidak mungkin hanya dalam waktu satu semester bahkan setengah semester skripsi bakal selesai.

Tapi kalo susah fokus? bisa jadi, pas buka laptop buat ngetik tiba - tiba hati tergoda buat nyetatus di facebook, ngoceh di twitter, malahan ngartikel di blog ( hahaha..... ). Kalo gini caranya, ngerjakan skripsi seperti halnya iman sedang dalam ujian.

3. Biar tingkat kefokusan barada di level atas, nggak jarang ngerjakannya sambil ngurung diri di kamar. Cara penyerapan ilmu tiap - tiap manusia berbeda, ada yang harus sambil mendengarkan musik agar bisa mengerjakan tugas dengan cepat, ada yang harus di tempat yang ramai agar bisa cepat rampung.
Kalo yang butuh konsentrasi dengan tanpa adanya gangguan dari luar, tentunya milih ngurung diri di dalam kamar buat spaneng ngerjain skripsi biar cepet selesai.

4. Rintangan buat ngerjain skripsi emang nggak selalu pasti, apalagi kalo dapat dosen pembimbing yang perfeksionis atau sulit di temui.
Emang tiap dosen pembimbing punya kesibukannya masing - masing, hanya mahasiswa beruntunglah punya dosen pembimbing yang bisa di temui setiap waktu. Nggak jarang mahasiswa menemui kesulitan bertemu dosen karena jadwalnya ke kampus cuma satu kali dalam seminggu.

Atau bahkan dosen pembimbing tiap hari ada di kampus tapi tetapi eh dosen tersebut menjabat juga sebagai kepala di suatu kantor dalam kampus, sibuknya menghadiri rapat bikin nunggu berjam - jam dari pagi sampai siang, pas udah balik ke ruang kerjanya di hampiri eh malah pergi lagi buat pertemuan yang nggak bisa di tunda - tunda.

Parahnya, pas udah balik lagi ke ruang kerjanya, waktu menyodorkan skripsi malah dapat ceukan karena bertepatan dengan jam istirahat. Al hasil, perjuangan menunggu dari pagi sampai sore nggak berbuah hasil. Inilah namanya skripsi membutuhkan kecerdasan emosional yang mumpuni, iman yang kuat dan tingkat kefokusan yang maksimal.

5. Tumpukan kertas jadi teman setia baru di kamar. Udah penuh perjuangan menemui dosen pembimbing, idealisme untuk mendapatkan acc sirna begitu saja ketika dapat revisi dan realitanya kumpulan kertas A4 yang di lukis sedemikian rapih cuma dapat coretan. Dengan terpaksa kertas yang udah di elus- elus tiap hari cuma menumpuk di meja kamar.

6. Topik skripsi yang di pilih bisa saja mendadak jadi lebih sulit dari yang di bayangkan.
Dosen maupun kakak tingkat kerap menyarankan bahwa memilihlah topik yang mudah dan di kuasai, karena itulah memilih topik skripsi yang memiliki banyak data dan hipotesis yang logis, sayangnya dua hal tersebut bukan jaminan buat skripsi akan terasa gampang. Bisa saja dosen memaksa untuk ganti teori. jadinya bikin kezel.

7. Sampai ada yang tanya "skripsimu sampai di mana?".

si A : "gimana skripsimu sampai bab berapa?"
jalan satu langkah, ketemu si B
si B : "gimana skripsimu sampai bab berapa?"
geser satu langkah ke kanan, ketemu si C
si C :"gimana skripsimu sampai bab berapa?"
serong ke kiri setengah langkah, eh ketemu si Z
si Z lalu tanya "gimana skripsimu sudah ACC?"

Ini yang membuat jiwa pengen melayang bebas ke awan di atas Samudra.

7. Semakin lama tiba - tiba keraguan mulai menghampiri, bisakah melewati semua ini.
Udah terlanjur nyemplung di kolam renang dangkal, mendadak berasa seperti terjebak di tengah sungai jika tak hendak pergi arusnya akan datang lebih deras, sementara jika akan melewatinya arus sudah deras dan dalam. Well, keraguan sudah penuh meluap di hati yang paling dalam dan berbagai pertanyaan mulai bermunculan.

"gimana nasibku?"
"Aku bisa lulus nggak ya?"
"Aku bisa sarjana nggak ya?"
"Kapan dapat ijasah?"
"Kapan kerja?"
"Kapan dapat gaji gedhe?", dan....
"Kapan aku rabine?"

8. Tapi ingat, kita sudah sejauh ini. Jangan menghukum diri sendiri dengan menyerah lalu berhenti.
Tuhan yang menentukan, kita yang mengupayakan, sampai semesta yang mengiyakan. Ketika rintangan berat yang menghalangi, artinya kegigihan jiwa perjuangan yang tinggi dan kepercayaan diri maksimal perlu di tunjukkan. Perlu di ingat - ingat lagi tujuan awal kita kuliah, untuk siapa kita persembahkan. Ada ribuan mahasiswa lainnya di Indonesia yang sedang berjuang, apakah kita hanya akan melihat keberhasilan mereka nantinya? tentunya TIDAK. Mungkin sekarang terseok - seok, tapi badai pasti berakhir.

9. Jangan putus asa, selama masih ada mereka.
Mahasiswa tingkat akhir, ini artinya sudah melewati banyak semester dan bayangkan berapa banyak biaya yang sudah mereka keluarkan. Ketika rasa putus asa, malas ngetik dan revisi, bayangkan mereka yang sudah kerja keras buat membiayai kuliah kita. Apa nggak mau membalas budi keringat yang sudah mereka peras?

10. Toga sudah siap menunggu kita menggunakannya.
Asam manisnya perjuangan kita bergulat dengan skripsi akan menyadarkan tentang apa itu makna ketekunan, fokus, dan kesungguhan mengarungi kehidupan di masa nanti.


Meski skripsi kadang bikin saya pengen bawa speaker buat dugem lagu iwak peyek di atas genteng, tapi
Skripsi? #SAYABISA!!

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "Asam Manisnya Bergulat Dengan Skripsi"

  1. waah saya juga bentar lagi skripsi gan ..
    jangan lupa mampir di blogg sederhana saya yaa www.koraninformasi.com

    ReplyDelete